Pada tanggal 27-29 April 2010 telah dilaksanakan PARADE PENELITIAN TUBERKULOSIS 2 atas kerjasama Unit Penelitian Kedokteran - FKUP, RSHS, DEPKES RI, USAID, KNCV, bertempat di Gedung Fakultas Kedokteran UNPAD, Jl. Eijkman. No. 38 Bandung.
Acara ini dihadiri juga oleh Menteri Kesehatan RI, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH
Sesuai yang dilansir oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.
"Pengendalian Tuberkulosis atau TB merupakan salah satu indikator keberhasilan Millenium Development Goals (MDGs) yang harus dicapai oleh Indonesia dan negara anggota PBB lainnya, yaitu menurunnya angka kesakitan dan angka kematian TB menjadi setengahnya pada tahun 2015 dibandingkan angka tahun 1990.
Hal itu disampaikan Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH, ketika membuka Parade Penelitian Operasional TB II, hari Selasa (27/04/2010) di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung.
Seperti arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada rapat kerja di Bali yang dihadiri para Menteri, Gubernur serta pejabat terkait beberapa beberapa waktu lalu, Menkes mengatakan bahwa Indonesia harus mencapai sasaran-sasaran MDGs karena masyarakat dunia memantau perkembangan pencapaian MDGs di masing-masing negara. Selain menunjukkan tingkat kesejahteraan suatu negara, pencapaian MDGs juga menggambarkan tingkat kemajuan dan kualitas bangsa tersebut.
Menurut Menkes, angka prevalensi TB di Indonesia pada tahun 1990 adalah 443 per 100.000 penduduk dan pada tahun 2015 ditargetkan harus menurun menjadi 222 per 100.000 penduduk. Pada tahun 2007 angka tersebut telah mencapai 244 per 100.000 penduduk yang berarti telah terjadi penurunan prevalensi secara nasional sebesar 45%.
Sementara angka kematian TB pada tahun 1990 adalah sebesar 92 per 100.000 penduduk dan pada tahun 2007 telah turun menjadi 39 per 100.000 penduduk. Angka ini menunjukkan terjadi penurunan angka kematian secara nasional sebesar 57%.
Pencapaian penurunan angka kesakitan dan kematian TB ini masih pada tingkat atau skala nasional karena bila dicermati data-data di tiap provinsi dan kabupaten/kota maka masih terlihat adanya disparitas atau kesenjangan yang besar antar provinsi dan antar kabupaten/kota.
Hal itu disebabkan terbatasnya akses penduduk pada pelayanan kesehatan akibat berbagai hal seperti hambatan sosial ekonomi dan hambatan geografis. Hambatan-hambatan tersebut diatasi dengan meluncurkan program Jamkesmas, memberikan perhatian khusus pada Daerah Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK), melakukan langkah-langkah PDBK (Penanganan Daerah Bermasalah Kesehatan (PDBK), serta meluncurkan kebijakan BOK (Bantuan Operasional Kesehatan) bagi Puskesmas, ujar Menkes.
Menkes mengatakan, walaupun telah banyak kemajuan yang telah dicapai dalam pengendalian TB di Indonesia, tetapi tantangan masalah TB ke depan masih besar.
TB tidak mungkin ditanggulangi oleh pemerintah atau jajaran kesehatan saja, tetapi harus melibatkan mitra dari sektor terkait dan mendapat dukungan seluruh lapisan masyarakat. Peningkatan koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kegiatan Program TB di antara pemangku kepentingan dan mitranya harus dilakukan mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi.
Banyak kegiatan yang diinisiasi oleh Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, mengintegrasikan TB sebagai salah satu kurikulum berbasis kompentensi pada pendidikan dokter umum maupun pendidikan dokter spesialis Pulmonologi di fakultas kedokteran. Selain itu kurikulum tentang pengendalian TB juga telah masuk di fakultas kesehatan masyarakat, fakultas keperawatan serta institusi pendidikan lain yang terkait, ujar Menkes.
Menurut Menkes, TB bukan hanya masalah sektor kesehatan saja, tetapi juga terkait dan berdampak pada sosial ekonomi masyarakat. Menurut WHO Report on Global TB Control 2009, di Indonesia setiap tahunnya terdapat 528.000 kasus TB baru untuk semua jenis baik BTA positif, BTA negatif dan TB Extra Paru atau prevalensi sebesar 244 per 100.000 penduduk. Dengan angka kematian mencapai 81.000 orang setiap tahunnya.
Kegiatan parade penelitian operasional ini merupakan rangkaian peringatan Hari TB Sedunia yang pada tingkat global mengambil tema On The Move Againts Tuberculosis, Innovate To Accelerate Action. Di Indonesia tema tersebut diterjemahkan menjadi Tingkatkan Inovasi, Percepat Aksi melawan Tuberkulosis. Tema ini menggambarkan perlunya inovasi baru untuk melakukan akselerasi dalam Pengendalian TB.
Menkes mengharapkan, penelitian operasional TB dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk melakukan inovasi kegiatan program pengendalian TB. Karena itu, hasil penelitian operasional bersama para pengelola program pengendalian TB sangat penting, agar hasilnya dapat dimanfaatkan untuk melakukan aksi atau langkah tindak lanjut. Dengan demikian setiap aksi program yang inovatif memiliki dasar ilmiah yang kuat, akuntabel, dan berbasis bukti, ujar Menkes.
Hadir dalam acara ini Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh, Dekan FK Unpad, Dirut RSUP Hasan Sadikin, serta para pejabat di lingkungan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan Nasional.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id , info@puskom.depkes.go.id , k ontak@puskom.depkes.go.id .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tulis Komentar Anda Disini